email sebagai pengganti surat
email sebagai pengganti surat sudah sangat umum digunakan saat ini. namun bila saya menerima email yang tidak disertai dengan subjek saya tidak akan membukanya, karena pada umumnya email-email yang tidak dilengkapi dengan subjek hanya berisikan hal-hal yang menurut saya tidak penting dan bukan berasal dari orang yang saya kenal.
email-email yang tidak jelas, memang sangat mencurigakan, apa lagi email tersebut berasal dari sender yang tidak kita kenal.
saya tidak akan menanggapi atau membuka email dari sumber yang tidak saya kenal, karena umumnya hanya berisi iklan-iklan atau informasi yang tidak terlalu penting, mengenai masalah virus yang tersebar lewat email, sampai saat ini saya belum menemukannya secara langsung dan tidak berharap untuk menemukannya di email saya. namun untuk berjaga-jaga ada baiknya bila kita tidak membaca email sembarangan, apalagi dari sender yang tidak kita kenal.
mengenai masalah takut atau tidak takut dalam membuka email, tidak ada alasan bagi saya untuk merasa takut dalam membuka email selama email yang saya buka masih berasal dari sumber yang saya kenal. atau dengan kata lain selama kita masih berhati-hati dan selektif dalam menerima atau membaca email maka kita tetap akan terlindungi dari virus-virus tesebut.
email sebagai sarana menghujat atau sarana berhumor, menurut saya masih wajar-wajar saja, selama email tersebut kita peruntukan bagi orang yang menurut kita senang bercanda atau teman-teman dekat kita. namun bila hujat atau humornya sudah bersifat negatif ada baiknya kita menghindari hal-hal tersebut. karena dampaknya akan sangat merugikan bagi kita. dan undang-undangnya pun sudah sangat jelas.
email sebagai sarana transaksi bisnis pun memang sangat diperlukan sebagai kemudahan. namun bila dikirim secara terus-menerus karena belum mendapat jawaban, saya rasa harus dihindari, karena mungkin saja lawan bisnis kita sedang sibuk mengurus klien yang lain, atau belum sempat membaca email kita dan lain sebagainya. ada hal lain yang dapat kita lakukan, misalnya dengan mengirim email dengan isi pesan yang meminta agar urusan kita dipercepat namun tetap dalam tutur bahasa yang sopan, tidak menyuruh atau menggurui.
jika membahas tentang kemajuan, sudah jelas email merupakan sebuah kemajuan penting, namun yang menjadi masalah apakah kemajuan ini dipergunakan dengan benar atau justru kemajuan membawa kita pada kemunduran.
menurut saya agresif merupakan salah satu sifat manusia yang lebih senang mendahului ketimbang didahului, atau lebih senang menyerang ketimbang diserang. mengenai masalah kecepatan, isi dan nada sebuah email, sudah sangat jelas sifat agresif menginginkan sesuatu diproses secara cepat dan tidak mau ditunda-tunda, isi dan nada pesannya pun umumnya bersifat perintah atau menyuruh.
saya sangat setuju dengan anggapan bahwa email telah menjadi "sebuah gangguan tak henti-hentinya, kewajiban nonstop dan sumber pembuat stres dan kecemasan". alasannya, selama kita masih menggunakan internet dalam kehidupan kita sehari-hari maka email pun akan terus masuk kedalam account email kita, hal tersebut tidak dapat kita hindari karena mau tidak mau kita wajib melampirkan account email kita pada setiap jejaring internet atau apapun yang berhubungan dengan media yang tersedia di internet.
namun untuk masalah stres atau kecemasan saya rasa tidak terlalu berpengaruh, karena kita dapat dengan mudah menghapus email-email yang ada di inbox kita. atau hanya membaca email-email yang sekiranya penting saja.
tidak ada waktu khusus bagi saya untuk membuka atau membaca email setiap harinya, karena sampai saat ini belum ada urusan yang sifatnya penting yang saya lakukan melalui email, maka saya membukanyapun sesuka hati saya, misalnya bila ada email dari dosen atau mengirim email ke dosen saja.
sampai saat ini saya masih belum bisa menggunakan waktu dengan baik, karena seperti remaja-remaja pada umumnya, masih mengutamakan hiburan-hiburan semata dalam menggunakan internet maupun dalam kehidupan sehari-hari.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda